Pemkot Ungkap Harga Sapi Naik Jadi Penyebab Pedagang Mogok Masal di RPH

Amal Taufik
Monday, 06 Apr 2026 17:35 WIB

RPH: Sapi disembelih di RPH Blandongan, Kota Pasuruan.
PASURUAN, TADATODAYS.COM - Penyebab terhentinya aktivitas penyembelihan di Rumah Potong Hewan (RPH) Blandongan selama dua hari akhirnya mulai terurai. Pemkot Pasuruan menyebut kondisi tersebut lebih dipicu persoalan pasokan dan harga sapi yang melonjak.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan, Mualif Arief, menjelaskan, pada Jumat (3/4/2026) hingga Sabtu (4/4/2026) lalu para pedagang dan jagal memang tidak melakukan penyembelihan. “Mereka tidak menyembelih karena tidak dapat sapi. Kalaupun ada, harganya sudah terlalu mahal,” ujar Mualif saat dikonfirmasi, Senin (6/4/2026).
Ia menyebut, dalam kondisi normal, jumlah penyembelihan di RPH Blandongan bisa mencapai sekitar 10 ekor sapi per hari. Namun, dalam beberapa hari terakhir, aktivitas itu sempat berhenti total.
Namun menurut Mualif, situasi mulai berangsur pulih sejak Minggu. Para jagal kembali melakukan penyembelihan, meski jumlahnya belum sepenuhnya stabil. “Mulai Minggu sudah ada penyembelihan lagi. Pagi ini juga sudah berjalan, meskipun volumenya belum seperti biasanya,” imbuhnya.
Dari hasil penelusuran dinas, lonjakan harga sapi menjadi persoalan utama yang dihadapi para pedagang. Kenaikan harga disebut mencapai Rp2 juta hingga Rp4 juta per ekor, sehingga memberatkan pedagang.


Kondisi tersebut tidak lepas dari terbatasnya stok sapi di dalam Kota Pasuruan. Ia mengungkapkan, populasi sapi di wilayah kota tergolong kecil dan belum mampu mencukupi kebutuhan pasar.
“Di dalam kota sendiri stoknya terbatas, sekitar 150 sampai 160 ekor. Jadi selama ini pedagang bergantung pada pasokan dari luar daerah,” jelasnya.
Ketergantungan itu membuat harga di pasar lokal sangat dipengaruhi kondisi di daerah pemasok. Ketika harga di luar naik, pedagang di Kota Pasuruan ikut terdampak. "Jadi menurut kami persoalannya pada harga sapinya itu sendiri yang naik," imbuhnya.
Terkait isu lain yang sempat mencuat dalam dinamika pasar daging, seperti dugaan peredaran sapi gelonggongan, Mualif menegaskan hal tersebut bukan menjadi kewenangan dinasnya. “Kalau itu ranahnya penegak hukum. Untuk memastikan juga tidak bisa hanya dilihat, harus melalui uji laboratorium,” kata Mualif.
Sebelumnya, para pedagang daging di Kota Pasuruan sempat menyatakan mogok masal. Mereka protes harga sapi yang mahal hingga dugaan beredarnya daging gelonggongan di pasar. Pedagang meminta pemerintah segera melakukan intervensi. (pik/why)



Share to
 (lp).jpg)

