Iqbal Al Fardi


Wartawan Tadatodays.com | 2022-08-20 13:16:21

Zona Lima TPA Pakusari Terbakar, Api Berasal dari Gas Metana

PEMADAMAN: Sampai Sabtu (20/8/2022) siang, upaya pemadaman masih terus dilakukan di zona lima TPA Pakusari, Kabupaten Jember.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Kebakaran terjadi di zona lima Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pakusari, Jember, Jumat (19/8/2022) petang. Api diduga kuat berasal dari gas metana yang muncul di tumpukan sampah. Sampai Sabtu (20/8/2022) sekitar pukul 11.00, kebakaran di zona lima TPA Pakusari masih belum padam. Kepulan asap tertiup angin sampai ke pemukiman di selatan TPA. 

Kebakaran ini mula-mula terjadi Jumat pukul 18.00. Warga sekitar kemudian melaporkan pada pihak pengelola TPA Pakusari bahwa ada kebakaran di ujung utara zona lima.

Baca Juga : Memasak, Ditinggal Mengantar Anak, Dapur Ludes Terbakar

Setelah mendapat laporan itu, Pengawas TPA Pakusari Muhammad Masbut langsung mengontak tim pemadam kebakaran (damkar). sekitar pukul 18.30 ada 6 kendaraan damkar dikerahkan.

Baca Juga : Api Melalap Warung di Tegalsiwalan, Kerugian Rp 50 Juta

Kebakaran ini bertahan sampai Sabtu siang. Namun, api perlahan-lahan berhasil dijinakkan. Dari 6 damkar yang sempat dikerahkan, pada Sabtu siang tersisa 4 damkar.

Muhammad Masbut menyatakan, sekitar 800 m² area zona lima terbakar. "Zona lima ini adalah zona pembuangan sampah yang kami aktifkan kembali," terangnya.

Menurutnya, kebakaran disebabkan gas metana dari tumpukan sampah organik. "Kebakaran di TPA biasanya disebabkan gas metana yang berasal dari sampah organik. Cuaca kemarau seperti sekarang bisa menyulut api hingga kebakaran. Beberapa hari ini sudah tidak ada hujan," jelasnya.

Sementara, sub koordinator pengelolaan sampah TPA Pakusari Nurul Hidayah menghimbau pada masyarakat untuk kembali memilah sampah organik dan non organik agar tidak ada lagi gas metana di tumpukan sampah TPA.

"Sebaiknya masyarakat memilah kembali sampah organik. Lalu sampah tersebut bisa dimanfaatkan untuk hal lain seperti pupuk. Jangan lagi membungkus sampah organik menggunakan kantong plastik," imbaunya. (iaf/why)