Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2021-02-27 21:37:02

Banjir di Kota Probolinggo, Ribuan Ternak Mati, Pemilik Rugi Ratusan Juta Rupiah

MERUGI: Agus Wijaya menunjukkan ternaknya yang mati akibat banjir di Kota Probolinggo. Gara-gara ribuan ternaknya mati, kerugian yang dideritanya mencapai seratus juta rupiah.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Banjir yang terjadi di Kota Probolinggo, Jumat (26/2/2021), tak hanya merendam pemukiman warga. Sejumlah peternak merasakan kerugian akibat ternaknya mati. Tak tanggung-tanggung, ada ribuan ternak mati dengan kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

Agus Wijaya, 30, warga RW 4 Kelurahan/Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo mengatakan, total ternaknya yang mati lebih 1.500 ekor. Terdiri dari seribu ekor ayam, 500 ekor bebek, dan puluhan burung dara.

Baca Juga : Menumpuk, Pakaian Layak Pakai di Posko Banjir Dringu Banyak Tak Didistribusikan

Akibat musibah tersebut, ia mengklaim kerugiannya mencapai Rp 100 juta. Ternak yang mati itu akan dikubur. Meski masih ada yang hidup, peternak kelahiran Desa/Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo itu mengaku akan memotongnya.

Baca Juga : Duh! Pria Ini Sebut Bencana Dringu Karena Banyak Zina

“Sisa yang hidup akan disembelih saja,” katanya. Ia tak mau berspekulasi untuk tetap merawat sisa ternak yang ada. Lebih dari itu, pria yang akrab disapa Agus ini berharap ada bantuan ternak dari pemkot untuk dia memulai kembali usahanya.

Tak hanya peternak, banjir tersebut juga membuat petani merugi. Seperti Mochammad Hasid, 29, warga RT 15/RW 4, Kelurahan/Kecamatan Kedopok yang mengatakan jika sawahnya yang ditanami cabai tergenang air.

Bahkan, hingga pukul 08.30 WIB air di sawahnya belum surut. “Kalau dihitung kerugiannya mencapai Rp 10 juta. Cabai ini baru saja ditanam. Airnya di sini sampai leher. Makanya air di sawah masih dikuras,” kata Hasid.

Kelurahan Kareng Lor dan Kedopok/Kecamatan Kedopok memang menjadi lokasi terparah dari banjir tersebut. Banjir tersebut disebut-sebut merupakan air kiriman dari lereng Bromo yang mengalir hingga sungai Legundi.

BERSIH-BERSIH: Penghuni Panti Asuhan Al-Umah membersihkan perabotan yang kotor akibat terendam banjir. Sementara waktu anak asuh dititipkan ke rumah warga yang tidak terdampak.

Selain itu, banjir juga disebabkan tanggul sungai Legundi yang terletak di Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo jebol. Termasuk, tersumbatnya air akibat penumpukan sampah di jembatan sepanjang Jl. Prof. Hamka serta gorong-gorong dekat proyek revitalisasi rumah sakit baru.

Dalam pantauan tadatodays.com air menggenangi SD Negeri Kareng Lor 1, pabrik, dan panti asuhan. “Malam itu airnya sampai lutut,” kata Aziz, warga setempat sembari menunjukkan bekas lumpur di tembok dalam rumahnya

Kepala SDN Kareng Lor 1 Heri Purnomo mengatakan, guru-guru kemudian dikerahkan untuk mengamankan dokumen penting sekolah. Beruntung, siswa tidak sedang menjalani proses belajar mengajar.

Terpisah, pengasuh Panti Asuhan Al-Umah Eko Yudierwanto mengatakan, anak asuh panti saat banjir dititipkan pada warga yang tak terdampak banjir. “Sekarang kami masih melakukan pembersihan lumpur,” terangnya.

Sementara itu, pemkot dan Polres Probolinggo Kota bergerak memberikan bantuan pada warga terdampak. Di antaranya makanan serta membantu warga membersihkan rumahnya dari material banjir.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo menjelaskan, banjir terjadi akibat tingginya intensitas hujan di wilayah selatan Probolinggo. Tak hanya itu, banjir juga membawa material seperti bambu, pohon pisang, dan sampah lainnya.

 “Akibatnya, sampah menyangkut di jembatan yang melintas di Jl. Prof Hamka. Dari itu air meluap ke pemukiman dan persawahan,” ungkapnya. Sugito mengaku puncak banjir terjadi sekira 17.00-20.00 WIB. Menurutnya, ada 7 rumah yang terendam air.

Selain itu, tim gabungan juga sempat menyelamatkan ibu hamil menggunakan perahu boot. Sementara evakuasi dan pembersihan sampah rampung pukul 23.00  WIB. “Pagi ini kami kirim air bersih, makanan, dan membantu warga,” jelasnya. (ang/sp)