Banyuwangi Ethno Carnival 2025 Dibuka dengan Doa untuk Korban KMP Tunu Pratama Jaya

Mohamad Abdul Aziz
Sabtu, 12 Jul 2025 20:16 WIB

CARNIVAL: BEC mengusung tema “Ngelukat: Usingnese Traditional Ritual,” digelar Sabtu (12/7/2025).
BANYUWANGI, TADATODAYS.COM - Parade kostum budaya Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2025 resmi digelar pada Sabtu (12/7/2025). Ajang yang menjadi bagian dari kalender pariwisata nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) ini dibuka dengan suasana duka, menyusul tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Rabu (2/7/2025) malam lalu.
Sebagai bentuk belasungkawa, seluruh peserta, panitia, undangan, hingga penonton BEC mengenakan busana serba hitam. Warna tersebut dipilih sebagai simbol duka masyarakat Banyuwangi atas musibah yang menimpa para korban kapal feri penyeberangan Ketapang – Gilimanuk tersebut.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani membuka BEC dengan ajakan doa dan mengheningkan cipta. “Mari kita tundukkan kepala sejenak untuk mengirimkan doa dan rasa bela sungkawa kepada masyarakat yang terkena musibah tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya,” ujarnya.
Doa bersama juga dipanjatkan untuk keluarga korban yang ditinggalkan, serta harapan agar proses pencarian korban yang belum ditemukan dapat segera membuahkan hasil. Ipuk juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada tim SAR gabungan, TNI-Polri, dan para relawan yang sudah bekerja tanpa lelah selama sebelas hari terakhir.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turut hadir membuka BEC 2025. Khofifah mengajak seluruh hadirin membaca Surah Al-Fatihah untuk para korban. “Semoga amal para korban diterima, khilafnya diampuni, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan oleh Tuhan Yang Maha Esa,” katanya sebelum membuka acara.
Sebelum hadir dalam BEC, Khofifah terlebih dahulu mengunjungi keluarga korban di Pelabuhan Ketapang dan memberikan santunan kepada ahli waris korban asal Jawa Timur.
Sementara, BEC tahun ini mengusung tema “Ngelukat: Usingnese Traditional Ritual”. Tema ini menggambarkan fase-fase kehidupan masyarakat suku Osing, suku asli Banyuwangi, mulai dari sebelum kelahiran hingga akhir hayat.
Pagelaran budaya ini menjadi refleksi sekaligus penghormatan. Tidak hanya terhadap kekayaan tradisi lokal, tetapi juga sebagai bentuk solidaritas dan empati atas tragedi kemanusiaan yang tengah terjadi. (azi/why)

Share to
 (lp).jpg)