Tadatodays


Wartawan Tadatodays.com | 2022-08-03 14:32:53

Barudin, Potret Kebangkitan Perlahan PKL Alun-Alun Kota Probolinggo

PEJUANG RUPIAH: Barudin, pedagang es buah yang berusaha bertahan di tengah pandemi Covid-19 dengan pendapatan kembang kempis.

Merebaknya pandemi Covid-19 berdampak buruk bagi banyak sektor, khususnya ekonomi. Para pedagang kaki lima (PKL) di Alun-Alun Kota Probolinggo pun merasakan dampak tersebut. Seiring melandainya pandemi, kini perlahan-lahan PKL Alun-Alun Kota Probolinggo bangkit.

-----------------------

Baca Juga : Maling Gondol Motor di Parkiran Alun-alun Kota Probolinggo

ADA masanya Alun-Alun Kota Probolinggo seperti tempat mati. Tidak ada kehidupan. Tidak ada PKL berjualan. Tidak ada kendaraan parkir memutari alun-alun seperti biasa terjadi. Pemandangan tersebut terjadi pada saat pandemi Covid-19 masih sangat mencekam sejak pertengahan 2020 sampai 2021 lalu.

Memasuki 2022, pandemi Covid-19 perlahan melandai. Pemerintah pun pelan-pelan membuka kembali ruang sosial. termasuk para PKL alun-alun yang diperbolehkan kembali berjualan, melayani pembeli yang dine in (makan di tempat) maupun take away (dibawa  pulang).  Alun-alun Kota Probolinggo kini kembali menjadi jujugan masyarakat untuk mencari beraneka kuliner dengan harga terjangkau.

Rabu (8/3/2022) itu, Barudin, salah seorang PKL terlihat berjualan es buah di sisi selatan alun-alun. Pedagang berusia 23 tahun yang mengenakan kaus merah itu sedang menunggu pelanggan datang. Sekotak es buah berwarna merah hampir habis dijualnya.

Rombong kecil bertuliskan “Es Semangka Suka Suka” itu dijalankan Barudin seorang diri. Istrinya  sedang hamil delapan bulan, dan hanya menunggu di rumahnya. Sang istri kena PHK dari perusahaannya gegara pandemi. Usaha Barudin pun sempat tersungkur saat pandemi.

Ketika ditanya tadatodays.com mengenai usahanya kala pandemi, Barudin mengaku sampai membawa pulang tak sepersenpun uang. “Sepi, dari pagi gak ada penghasilan. Sama sekali!” ujarnya. Bahkan sekarang ia masih belum berjualan lagi menu kentang goreng yang dulu sempat menjadi salah satu andalan omzetnya.

Barudin sendiri memutuskan untuk membuka usaha setelah ia lulus SMA pada 2016. Ia tak mau lagi membebani orang tuanya. Dari Youtube, Barudin mengulik usaha yang pas untuk ia jalankan. “Awal belajar lihat-lihat Youtube. Saya juga iseng nulis untuk jual apa yang sekiranya enak. Akirnya saya memutuskan untuk jual es. Meskipun tetap ada kekhawatiran tidak laku,” kata pemuda lulusan MAN 2 Probolinggo ini.

Dua setengah tahun lamanya semenjak pandemi, ia memutuskan untuk menutup usahanya sementara. Selama itu pula Barudin hanya diam di rumah dengan kesibukan bekerja apapun  sebisanya. “Ya nggak bisa ngapa-ngapain. Nggak ada penghasilan. Cuman bantu-bantu,” katanya dengan kalimat tersendat saat memberi keterangan.

Omzet yang Barudin dapat sebelum pandemi tidaklah sedikit. Ia sanggup meraup keuntungan sekitar Rp 700 ribu per hari. Begitu pandemi datang, pendapatannya merosot sampai Rp 0.

Salah satu kebijakan pemerintah pada masa pandemi yang paling berdampak pada usahanya ialah pelarangan berjualan di Alun-Alun Kota Probolinggo. Saat itu ia mengharapkan pemerintah bisa menyediakan ruang alternatif untuk menjalankan usahanya. “Nggak masalah kalau nggak boleh  jual di sini (alun-alun, red), asal disediakan tempat alternatif lah,” kata Barudin mengulang keluhannya saat dirazia Satpol PP pada masa pandemi. 

Walau begitu, pada saat pandemi, Barudin sempat mencecap bantuan dari pemerintah. Ia mendapatkan bantuan tunai untuk pelaku usaha sebesar Rp 1,2 juta. 

Kini, sebagaimana para pelaku usaha lainnya, pelan-pelan Barudin bangkit setelah masa gelap pandemi berlalu. Di masa awal berjualan kembali, Barudin hanya mampu meraup Rp 5 ribu. Ia menjalankan usahanya itu dari pagi sampai sore. Tetapi saat ini Barudin sudah bisa meraup keuntungan sekitar Rp 100 ribu per harinya.

Suka duka berjualan di tempat terbuka sudah dirasakan Barudin. Pernah suatu ketika Barudin kehilangan barang-barang yang ia gunakan untuk berjualan. Alhasil, ia harus membawa pulang semua bahan jualannya.

Momen Car Free Day (CFD) di kawasan Alun-Alun Kota Probolinggo dirasa sangat membantu bagi Barudin. Sebab, di momen CFD ia bisa mendapatkan pendapatan tertinggi. 

Barudin menikah pada Juli 2021 lalu. Enam bulan sebelumnya, ia mengumpulkan modal untuk menikah dari jualan esnya. “Nyicil-nyicil, per hari Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu untuk modal nikah,” ujarnya mengingat masa-masa berusaha untuk bangkit kembali.

Barudin merupakan  sosok pemuda yang tak kenal lelah. Ia tetap optimis untuk melanjutkan usahanya setelah pandemi mereda. Ia juga berencana untuk kembali menjual menu kentang goreng andalannya  setelah kondisi benar-benar sudah membaik. Sembari itu, ia menunggu kelahiran anak pertama yang tengah dikandung istri tercintanya. (iaf/why)

Penulis: Iqbal al Fardi