Cuaca Ekstrem Ancam Jatim, Khofifah Pastikan Operasi Modifikasi Cuaca Terus Berjalan

Amal Taufik
Amal Taufik

Thursday, 22 Jan 2026 19:07 WIB

Cuaca Ekstrem Ancam Jatim, Khofifah Pastikan Operasi Modifikasi Cuaca Terus Berjalan

GUBERNUR: Khofifah saat berkunjung ke Pasuruan.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan langkah mitigasi cuaca ekstrem terus dilakukan untuk menekan potensi banjir di sejumlah daerah. Salah satu upaya yang kini berjalan adalah operasi modifikasi cuaca yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, operasi tersebut telah dimulai sejak 5 Desember 2025 dan difokuskan untuk mengendalikan intensitas hujan, terutama saat kondisi atmosfer menunjukkan potensi hujan lebat berkepanjangan.

“Kalau modifikasi cuaca tidak dilakukan, potensi hujan akan jauh lebih besar. Dampaknya bisa memicu genangan dan banjir di banyak wilayah,” kata Khofifah saat menghadiri peresmian kawasan terpadu di Kelurahan Bendomungal, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Rabu (21/1/2026).

Menurut Khofifah, operasi modifikasi cuaca dilakukan secara teknis dan terukur, sehingga tidak banyak diketahui publik. Dalam pelaksanaannya, BPBD Jatim melakukan tiga hingga empat sorti penerbangan setiap hari untuk mengendalikan pembentukan awan hujan.

Langkah tersebut, lanjut Khofifah, merupakan bagian dari layanan perlindungan pemerintah kepada masyarakat, khususnya dalam menghadapi cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), intensitas hujan di Jawa Timur pada Desember 2025 sempat menurun sekitar 20 persen. Namun, pada Januari 2026 justru mengalami lonjakan signifikan hingga 58 persen dibanding bulan sebelumnya.

“Untuk Februari, yang bertepatan dengan bulan Ramadan, intensitas hujan diperkirakan masih di kisaran 22 persen. Angka ini tetap lebih tinggi dibanding Desember,” jelas Khofifah.

Ia menambahkan, Pemprov Jatim juga telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Basarnas untuk mematangkan strategi mitigasi. Salah satunya dengan menurunkan hujan di wilayah laut sebelum awan bergerak ke daratan.

“Jika awan hujan sudah terlanjur masuk daratan, maka dilakukan pemecahan awan menggunakan bahan tertentu melalui pesawat Cessna,” terangnya.

Meski demikian, Khofifah menegaskan tidak semua bencana alam dapat dikendalikan dengan teknologi. Fenomena seperti gempa bumi dan angin puting beliung hingga kini belum bisa dimitigasi melalui modifikasi cuaca.

“Upaya manusia kita lakukan semaksimal mungkin. Selebihnya, kita iringi dengan doa agar masyarakat dan wilayah Jawa Timur senantiasa diberi keselamatan,” katanya. (pik/why)


Share to