Pasar Kumuh dan Sepi, Digitalisasi Jadi Andalan Tarik Pembeli

Dwi Sugesti Megamuslimah
Thursday, 09 Apr 2026 18:18 WIB

Sekretaris Diskopumdag Jember Wiwik Supartiwi.
JEMBER, TADATODAYS.COM - Kondisi pasar tradisional di Kabupaten Jember disebut sedang tidak baik-baik saja. Selain menghadapi persoalan kebersihan dan fasilitas, pasar juga mulai ditinggalkan pembeli akibat kalah bersaing dengan pola perdagangan baru.
Ketua Komisi C DPRD Jember, Ardi Pujo Prabowo, menyebut banyak pasar dalam kondisi memprihatinkan. Mulai dari lingkungan yang kumuh hingga minimnya perawatan.
“Faktanya pasar kita banyak yang tidak terawat, kumuh, bahkan kurang nyaman. Ini tentu berpengaruh pada minat masyarakat untuk datang,” ujarnya Kamis (9/4/2026) siang.
Ia menilai, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut. Apalagi, pasar tradisional masih menjadi pusat ekonomi rakyat yang seharusnya mendapat perhatian serius.
Menurut Ardi, peningkatan PAD dari sektor pasar harus dibarengi dengan komitmen untuk mengembalikan anggaran tersebut ke perbaikan pasar. “Kalau PAD naik, harus dikembalikan lagi untuk revitalisasi. Supaya pasar bisa hidup kembali,” tegasnya.
Sementara, sekretaris Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Jember, Wiwik Supartiwi, mengakui bahwa revitalisasi pasar tidak bisa hanya mengandalkan perbaikan fisik semata. “Revitalisasi itu bukan hanya sarana prasarana, tapi juga pengelolaannya. Harus ada inovasi supaya pasar kembali menarik,” ujarnya usai RDP bersama komisi C DPRD Jember.
Ia menyebut, banyak pasar saat ini dalam kondisi kurang layak, mulai dari kios yang tidak terawat hingga lingkungan yang kurang nyaman. Dampaknya, minat masyarakat untuk berbelanja pun menurun.
Di sisi lain, muncul fenomena pedagang yang beralih berjualan dari rumah dengan konsep lebih fleksibel, bahkan hingga 24 jam. Kondisi ini membuat daya saing pasar tradisional semakin tergerus.

Menjawab tantangan itu, Diskopumdag mulai mendorong transformasi digital di lingkungan pasar. Salah satunya melalui pelatihan pedagang serta penerapan sistem pembayaran non-tunai.
“Dengan digitalisasi, transaksi bisa lebih transparan dan mengurangi kebocoran. Selain itu juga memudahkan pembeli,” jelasnya.
Tak hanya itu, konsep pengelolaan pasar juga akan diperbarui, termasuk kemungkinan menghadirkan tema atau ikon tertentu di masing-masing pasar agar lebih menarik.
Revitalisasi Pasar Tanjung menjadi salah satu proyek yang didorong untuk menjadi percontohan. Pemerintah daerah bahkan telah mengusulkan bantuan ke pemerintah pusat untuk mendukung pengembangannya.
Namun, Wiwik menegaskan, peningkatan pendapatan daerah tetap menjadi kunci utama. Sebab, tanpa dukungan anggaran yang memadai, perbaikan pasar akan sulit dilakukan secara menyeluruh.
“Kalau PAD meningkat, itu bisa dikembalikan lagi untuk memperbaiki pasar. Jadi siklusnya harus berjalan,” katanya.
Dengan berbagai upaya tersebut, pemerintah berharap pasar tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat di tengah perubahan zaman. (dsm/why)
.jpg)


Share to
 (lp).jpg)



