Andi Saputra


Wartawan Tadatodays.com | 2020-08-18 07:43:29

Tak Punya Ruang untuk Pameran Lukisan, Berharap Perhatian Pemkab Jember

DENGAN SOEKARNO: Adi Kurtubi berpose di depan lukisan palet Soekarno bikinannya. Ia berharap Pemkab Jember sering menyediakan ruang pameran agar para pelukis bisa memasarkan karyanya.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Adi Kurtubi seorang pelukis asal Dusun Darungan, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, memamerkan lukisan Soekarno di jembatan gantung dekat rumahnya. Tepat di hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, Senin (17/8/2020).

“Ikut berpartisipasi di hari kemerdekaan. Karena itu, tema lukisannya juga kemerdekaan,” kata Adi Kurtubi pada tadatodays.com membuka perbincangan. Pria berusia 48 tahun itu menuturkan, dirinya mulai melukis sejak duduk dibangku SD sekitar tahun 1980an. Namun, ia baru menekuni seni lukis teknik impasto sekitar tahun 2000.

Baca Juga : Cicil 3 Kali, Plt Bupati Jember Lunasi Kelebihan Insentif Selama 2019

Langkah melukis menggunakan teknik itu, diambil lantaran hasil lukisannya lebih ekspresif. Sehingga harga dan peminatnya lebih banyak, jika dibandingkan teknik natural. Jika merujuk aliran, ada pergeseran dari aliran realis ke ekspresionis.

Baca Juga : Wabup Muqit Belum Terima Penunjukan Plt Bupati Jember

Teknik impasto atau cat tebal sendiri merupakan teknik melukis dengan menggunakan pisau palet. Pada umumnya, pisau biasa digunakan untuk mencampur warna cat lukis. Namun dalam perkambangannya, pisau palet digunakan juga oleh seniman untuk melukis. Bahkan, dengan hasil yang lebih artistik.

Untuk menyelesaikan satu lukisan besar berukuran 2x1 meter, Kurtubi menghabiskan waktu sekitar 15 hari. Peminat karyanya pun tak hanya berasal dari dalam negeri. Tetapi juga datang dari mancanegara seperti Australia, Singapura, dan Malaysia.

Penjualan karya lukisnya, Kurtubi tidak mematok harga khusus. Harga lukisan hanya berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tergantung kesulitan dan ukuran lukisan yang diminta. Harga termahal yang pernah ia jual adalah 10,5 juta.

Tingginya harga jual lukisan itu, tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan Kurtubi dan keluarganya. Lantaran, pesanan belum tentu ada setiap bulannya. Apalagi, Kurtubi tidak menyandarkan kebutuhan keluarganya hanya dari melukis.

Melukis baginya soal hobi dan hiburan. Karena itu, pria kelahiran Demak, Jawa Tengah, itu bekerja serabutan agar dapurnya tetap ngebul.

Kurtubi mengaku baru masuk Jember pada tahun 2008. Namun, selama tinggal di Jember, belum pernah sekalipun ada pameran lukisan. Selama ini ia harus mengikuti pemeran gabungan keluar Jember seperti ke Jakarta, Jogja, dan Bali.

Karenanya, ia berharap agar pemkab ataupun lembaga yang punya minat khusus di kesenian, terutama seni lukis bisa memfasilitasi seniman seperti dirinya. Dengan begitu, peluang pemasaran terbuka.

Sejauh ini, pelukis menggunakan palet di Kabupaten Jember belum ia temui selain dirinya. “Kalau kendala, saya ini nggak ada modal. Terus nggak ada tempat khusus. Kalau ada tempat khusus, inspirasi bisa mengalir sendiri,” katanya. (as/sp)