BPOM Jember Soroti Distribusi dan SOP Dapur MBG Usai Dugaan Keracunan Siswa TK

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Thursday, 21 May 2026 16:43 WIB

BPOM Jember Soroti Distribusi dan SOP Dapur MBG Usai Dugaan Keracunan Siswa TK

Pengawas Farmasi dan makanan Ahli Muda BPOM Jember Yusita Harminingsih.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jember melakukan penelusuran terhadap dapur penyedia Program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai muncul dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa taman kanak-kanak (TK) di Jember, Rabu (20/5/2026).

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda BPOM Jember, Yusita Harminingsih, mengatakan tim BPOM telah mendatangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memproduksi makanan untuk peserta terdampak.

“Petugas dari Balai POM di Jember sudah melakukan penelusuran ke SPPG yang terkait, yang melakukan operasional pengolahan makanan terhadap peserta yang terdampak,” ujarnya Kamis (21/5/2026) sore.

Dalam penanganan kasus ini, BPOM fokus menelusuri prosedur pengolahan makanan yang diterapkan di dapur MBG. Sementara pengambilan sampel makanan dilakukan oleh Dinas Kesehatan. “Penelusuran terkait dengan cara atau prosedur bagaimana pengolahan makanannya,” katanya.

Yusita menjelaskan, potensi keracunan pada program MBG bisa terjadi karena rantai proses yang panjang dan kompleks. Mulai dari produksi makanan dalam jumlah besar hingga distribusi ke sekolah-sekolah penerima.

Menurutnya, waktu antara makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi menjadi salah satu titik krusial yang harus diawasi ketat. “Ada pengolahan pangan dalam jumlah besar, kemudian jalur distribusi dari tempat pengolahan ke tempat peserta, lalu melibatkan waktu yang mungkin cukup lama dan tidak sesuai SOP antara pemasakan dengan waktu konsumsi,” jelasnya.

BPOM, kata dia, mewajibkan setiap dapur MBG memiliki standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap tahapan pengolahan makanan. SOP itu penting untuk memastikan keamanan pangan sekaligus mempermudah evaluasi jika terjadi kasus serupa.

“Di dalam setiap kegiatan atau proses harus memiliki SOP. Jadi nanti bisa ditelusuri kalau ada kejadian seperti ini lagi, apakah ada kesalahan di proses atau kegiatan yang mana,” ungkapnya.

Yusita juga menyinggung soal penyebab keracunan makanan yang selama ini paling sering ditemukan, yakni kontaminasi bakteri atau sumber mikrobiologi.

Kontaminasi itu bisa berasal dari banyak faktor, seperti alat masak, air, bahan makanan, maupun proses penanganan makanan yang kurang higienis. “Kalau penyebabnya memang ada agen penyebabnya. Kebanyakan dari agen penyebab itu dari bakteri atau sumber mikrobiologi,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, setiap dapur MBG diwajibkan menyimpan sampel makanan selama 2x24 jam. Sampel itu nantinya dapat digunakan untuk pengujian laboratorium apabila muncul laporan dugaan keracunan. “Setiap kali SPPG memproduksi makanan, mereka harus menyimpan sampelnya selama 2x24 jam,” katanya. (dsm/why)


Share to