Volume Sampah di Pasuruan 1.000 Ton per Hari, Dewan Dorong Skema Reduksi Sampah dari Hulu ke Hilir

Amal Taufik
Amal Taufik

Tuesday, 17 Feb 2026 17:55 WIB

Volume Sampah di Pasuruan 1.000 Ton per Hari, Dewan Dorong Skema Reduksi Sampah dari Hulu ke Hilir

SAMPAH: Sampah di salah satu tempat pengolahan sampah di Pasuruan.

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Produksi sampah di Kabupaten Pasuruan kini memasuki fase yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Dalam sehari, volume sampah disebut mencapai sekitar 4.700 meter kubik atau setara hampir 1.000 ton.

Angka tersebut menjadi sinyal serius bagi pemerintah daerah untuk segera memperkuat strategi pengurangan dan pengolahan.

Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan mulai memetakan langkah. Salah satunya dengan mempelajari sistem pengelolaan berbasis warga yang diterapkan di Bank Sampah Malang. Model ini menempatkan rumah tangga sebagai titik awal pengendalian sampah melalui pemilahan sejak dari dapur.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Muhammad Zaini, menilai persoalan utama bukan semata pada kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA), melainkan pada pola kebiasaan masyarakat yang masih mencampur sampah.

“Kalau tidak dimulai dari rumah, seberapa besar pun TPA tidak akan cukup. Pemilahan adalah kunci,” ujar Zaini, Selasa (17/02/2026).

Menurutnya, sistem bank sampah mampu memberi dua dampak sekaligus: mengurangi beban lingkungan dan memberi nilai ekonomi. Warga yang menyetorkan sampah terpilah mendapat imbal hasil, sehingga tercipta insentif untuk mengubah perilaku.

Di sisi lain, DPRD juga mendukung pendekatan teknologi untuk mempercepat reduksi volume. Tahun ini, Pemkab Pasuruan merencanakan pengadaan empat unit insinerator dengan total anggaran sekitar Rp15 miliar.

Fasilitas tersebut akan ditempatkan di Tosari, Puspo, Lekok, dan Bangil—wilayah yang dinilai memiliki produksi sampah domestik cukup tinggi.

Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan Yusuf Daniyal menyebut strategi ganda menjadi pilihan rasional. Ia berharap, penguatan bank sampah dan pengoperasian insinerator dapat berjalan paralel. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan penumpukan di TPA. Harus ada pengurangan dari hulu dan pengolahan di hilir,” tegasnya. (pik/why)


Share to