Andi Saputra


Wartawan Tadatodays.com | 2022-07-27 17:22:33

Hadapi SSGI 2022, Pemkab Jember Ajak Semua Pihak Tangani Stunting

REMBUG STUNTING: Forum rembuk stunting akbar di Aula PB Sudirman, Rabu (27/7/2022) yang dipimpin Wakil Bupati Jember KH MB Firjaun Barlaman.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Penyelesaian permasalahan stunting masih menjadi fokus Pemerintah Kabupaten Jember. Pemkab Jember menargetkan  penurunan stunting 14 persen pada tahun 2024.

Hal itu terungkap dalam rembuk stunting akbar di Aula PB Sudirman, Rabu (27/7/2022). Wakil Bupati Jember KH MB Firjaun Barlaman dalam sambutanya mengajak seluruh elemen masyarakat dan instansi pemerintah semakin kompak dalam penanganan stunting agar angka stunting di Jember turun.

Baca Juga : Belasan Usulan Raperda Terancam Tidak Terbahas gegara Kajian Belum Siap

Wabup Gus Firjaun mengatakan, terdapat beberapa program yang harus disukseskan pada bulan Agustus mendatang. Program yang dimaksud adalah adanya bulan timbang, bulan vitamin A untuk Balita, dan bulan imunisasi anak nasional. “Saya berharap semua dapat berperan aktif sesuai tugas dan peran masing-masing,” katanya.

Baca Juga : Pemkab Jember Pastikan Tambak SMKPK Tidak Berizin

Terlebih, lanjutnya, pada bulan september mendatang akan diselenggarakan Survei Status Gizi Indonesia  (SSGI) 2022. Oleh karena itu, pihaknya berharap kabupaten Jember siap dalam segala sisi sehingga tergolong kabupaten dengan pelayanan kesehatan bagi balita yang mumpuni. “Semoga angka stunting dapat turun lagi, hingga tercapai target nasional 14 persen pada 2024,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jember Lilik Lailiyah mengatakan, rembuk stunting ini merupakan bentuk intervensi pemerintah dalam penurunan stunting yang terintegrasi, serta membangun komitmen publik untuk menyukseskannya.

Lilik menyebutkan, berbagai upaya intervensi pencegahan dan penurunan stunting, dengan penetapan desa khusus sebanyak 34 desa, dan pada tahun 2023 akan menggarap 40 desa. Sedangkan untuk intervensi terdapat intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Keduanya diisi dengan berbagai kegiatan seperti pendampingan ibu hamil KEK, ibu hamil risti (risiko tinggi), pemberian MT-ASI pada ibu hamil, dan pelayanan ANC terpadu. (*/as/why)