Setelah Viral Ada Ulat, Satgas MBG Kabupaten Probolinggo Monev, Fokus Evaluasi dan Penguatan

Hilal Lahan Amrullah
Hilal Lahan Amrullah

Monday, 02 Mar 2026 19:34 WIB

Setelah Viral Ada Ulat, Satgas MBG Kabupaten Probolinggo Monev, Fokus Evaluasi dan Penguatan

MONEV: Satgas MBG Kabupaten Probolinggo monev di dua SPPG, yaitu SPPG Sogaan, Kecamatan Pakuniran dan SPPG Sidodadi, Kecamatan Paiton.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Monitoring dan evaluasi (monev) sejumlah SPPG viral, dilakukan Satgas MBG Kabupaten Probolinggo, Senin (2/3/2026). Dua SPPG jadi perhatian setelah sempat viral beberapa waktu lalu usai kedapatan ulat. Masing-masing ialah SPPG Sogaan, Kecamatan Pakuniran dan SPPG Sidodadi, Kecamatan Paiton.

Ketua Satgas MBG Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto menegaskan, pihaknya masih memprioritaskan penanganan dampak cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Probolinggo dalam beberapa waktu terakhir. Namun di sela situasi yang mulai kondusif, Satgas MBG tetap melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Ugas, dua hari terakhir kondisi cuaca relatif aman. Hal itu dimanfaatkan untuk turun langsung ke lapangan, khususnya di wilayah Sogaan, yang belakangan menjadi atensi. “Kita masih fokus dari beberapa kegiatan, terutama karena cuaca ekstrem kemarin. Siang malam kita turun mewakili Pak Bupati. Sekarang karena dua hari ini tidak ada hujan deras dan situasi cukup aman, waktu agak longgar, maka kita lakukan evaluasi langsung,” ujarnya.

Dalam peninjauan tersebut, Satgas MBG menemukan sejumlah hal yang perlu segera dibenahi. Ugas menegaskan, kehadiran Satgas bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan standar berjalan sesuai aturan. “Kita melakukan komunikasi dua arah. Bukan menyalahkan, tapi memberi solusi. Ada beberapa temuan signifikan dari hasil monitoring yang harus ditindaklanjuti,” tegasnya.

Jika rekomendasi tidak dijalankan, Satgas akan melaporkan kepada Satgas Provinsi. Koordinator wilayah (Korwil) kabupaten juga bertanggung jawab melaporkan ke pusat melalui jalur yang telah ditetapkan, termasuk ke pihak terkait di Jakarta, untuk diputuskan apakah perlu ada sanksi atau tidak. Ia memastikan, semua prosedur sudah dilakukan sesuai alur. Bahkan, dua hari sebelumnya laporan juga sudah disampaikan ke tingkat provinsi.

Sejak sebelum pendirian Satgas, pembinaan sudah dilakukan. Termasuk fasilitasi bimbingan teknis (bimtek) yang melibatkan Dinas Kesehatan. “Kita sudah memberikan pemahaman bagaimana menjaga kebersihan, mengelola makanan, supaya prosesnya tidak terkontaminasi. Semua itu gratis karena memang tugas Satgas,” jelasnya.

Namun, dari hasil evaluasi lapangan, masih ditemukan beberapa persyaratan yang belum sepenuhnya dipenuhi oleh pengelola dapur. Untuk itu, rekomendasi perbaikan telah disampaikan agar segera ditindaklanjuti.

Sebagai langkah penguatan, Ugas memastikan akan menggelar zoom meeting secara menyeluruh pada Kamis (5/3/2026) pagi. Pertemuan daring itu akan melibatkan seluruh pemilik, mitra, pegawai, relawan, hingga kepala dapur.

“Saya akan lakukan zoom meeting total. Karena yang saya hadiri di beberapa titik belum tentu tersampaikan ke yang lain. Kita samakan persepsi, kita beri pemahaman lagi bersama Dinkes agar semuanya kuat dan paham secara keseluruhan,” tegas Ugas.

Ugas menekankan, program MBG merupakan strategi nasional yang harus disukseskan bersama. Ia tidak ingin adanya persoalan teknis justru mencoreng nama daerah. “Kalau ada yang viral atau mencuat, yang malu bukan programnya saja, tapi Kabupaten Probolinggo. Pak Bupati sebagai pembina, dan saya merasa bertanggung jawab,” tandasnya.

Ia berharap, dengan penguatan dan pengawasan yang lebih ketat, tidak ada lagi kesalahan yang sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal. “Kita akan terus mengingatkan seluruh pelaku agar mengikuti aturan yang ketat. Harapannya ke depan tidak ada lagi hal-hal menonjol. Sekarang pengawasan lebih kuat daripada sebelumnya,” pungkasnya.

Sementara, pemilik SPPG Sogaan, H. Sugianto mengaku akan memperbaiki tim di dapur. Termasuk relawan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Lanjut H. Aan bahwa tidak kalah penting koordinasi terbangun dari pihak sekolah kepada pihak dapur. "Di sini kan ada kepala dapurnya jika ada temuan-temuan seperti ini, bangun garis koordinasi sehingga pihak dapur bisa menindaklanjuti Untuk memperbaiki menu-menu yang dikirim setiap harinya," tegasnya.

Aan menambahkan perbaikan ke depan menyangkut kualitas relawan, berikutnya beberapa titik ruangan yang perlu kita revisi. Termasuk penambahan inteksida atau pembunuh serangga yang menjadi rawannya munculnya ulat.

Sementara, pemilik SPPG Sidodadi, Nabilul Fikri mengaku ulat muncul setelah dipindah dari ompreng ke piring milik penerima manfaat. Munculnya beberapa jam setelah dipindah. Ada satu rumah dua penerima manfaat, yaitu ibu dan anak. Punya ibunya muncul ulat, sedangkan milik anaknya aman. "Dari 3.200 porsi hanya ada satu porsi bermasalah. jam beda jauh saat temuan," ujarnya. (hla/why)


Share to