Pendapatan RSUD Soebandi Tembus Rp 31 M per Bulan, DPRD Jember Soroti Layanan dan Alat Medis

Dwi Sugesti Megamuslimah
Wednesday, 04 Mar 2026 16:38 WIB

Anggota Komisi D DPRD Jember Wahyu Prayudi Nugroho
JEMBER, TADATODAYS.COM - Lonjakan pendapatan RSUD dr. Soebandi menjadi sorotan DPRD Jember. Di satu sisi, capaian finansial rumah sakit pelat merah itu melonjak signifikan. Namun di sisi lain, kualitas layanan, kesejahteraan tenaga kesehatan (nakes), hingga keterbatasan alat medis diminta ikut dibenahi.
Hal itu mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi D DPRD Jember bersama manajemen RSUD Soebandi, awal Maret 2026. Rapat tersebut merupakan tindak lanjut inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan sepekan sebelumnya.
Dalam forum itu, jajaran direksi memaparkan laporan kinerja 2025 sekaligus Rencana Bisnis Anggaran (RBA) 2026. Data yang disampaikan menunjukkan rata-rata pendapatan rumah sakit kini menyentuh Rp31 miliar per bulan. Angka itu melonjak hampir dua kali lipat dibanding periode sebelumnya yang berada di kisaran Rp15–17 miliar per bulan.
Anggota Komisi D DPRD Jember, Wahyu Prayudi Nugroho, menyebut peningkatan tersebut tak lepas dari tingginya kunjungan pasien, terutama melalui program Universal Health Coverage (UHC). Rata-rata kunjungan pasien tercatat mencapai 1.300 orang per hari, dengan lebih dari 1.000 tindakan medis, termasuk operasi.
“Peningkatannya memang signifikan. Tapi tren ini harus dibarengi dengan transparansi pengelolaan dan peningkatan mutu pelayanan,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Komisi D memberi penekanan khusus pada distribusi jasa pelayanan (jaspel) bagi tenaga kesehatan. DPRD meminta manajemen membuka secara rinci pola pembagian agar proporsional dan adil.
Manajemen menjelaskan, alokasi jaspel saat ini berada di kisaran 28–30 persen dari total pendapatan layanan. Meski demikian, DPRD tetap meminta evaluasi berkala agar kesejahteraan nakes terjamin seiring peningkatan pendapatan rumah sakit.

Selain itu, persoalan kekurangan alat kesehatan juga menjadi catatan penting. Salah satunya layanan gagal ginjal yang masih jauh dari ideal. Dari kebutuhan sekitar 270 unit alat hemodialisis, yang tersedia baru sekitar 70 unit. “Ini harus menjadi perhatian serius. Permintaan tinggi, tapi fasilitas belum memadai,” tegas Wahyu.
Menanggapi berbagai catatan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. Soebandi, dr. I Nyoman Semita, mengakui kapasitas rumah sakit saat ini masih terbatas. Dengan status sebagai rumah sakit rujukan regional, daya tampung dinilai belum mencukupi.
“Kapasitas tempat tidur saat ini 388 unit. Sementara kebutuhan ideal bisa mencapai 700 tempat tidur,” jelasnya.
Manajemen, lanjut dia, tengah menyiapkan rencana pembangunan gedung layanan baru. Skema pendanaan sedang dikonsultasikan dengan lembaga pembiayaan pusat.
Ia menegaskan, meski pengelolaan keuangan harus berjalan sehat, fungsi sosial dan kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama. “Potensi pasar layanan masih besar. Tapi yang utama, kami tetap berorientasi pada pelayanan masyarakat,” pungkasnya.
Lonjakan pendapatan memang menjadi kabar baik. Namun bagi DPRD Jember, angka-angka itu tak boleh berhenti di laporan keuangan. Kualitas layanan, kecukupan fasilitas, dan kesejahteraan nakes harus menjadi indikator utama keberhasilan rumah sakit daerah tersebut. (dsm/why)


Share to
 (lp).jpg)



