Puluhan Titik di Kota Probolinggo Tergenang, Wakil Ketua DPRD Soroti Infrastruktur Saluran Air

Alvi Warda
Monday, 19 Jan 2026 13:58 WIB

BANJIR: BPBD Kota Probolinggo saat mendatangi pemukiman warga yang masih tergenang.
PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Curah hujan tinggi yang mengguyur Kota Probolinggo pada Sabtu (17/1/2026), berbuntut banjir genangan di puluhan titik, dan mengakibatkan kerusakan infrastruktur. Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua II DPRD Kota Probolinggo Santi Wilujeng menyoroti infrastruktur saluran air dan sistem drainase secara menyeluruh.
Berdasarkan data BPBD Kota Probolinggo, tercatat ada 22 titik genangan air yang tersebar di beberapa kecamatan. Mulai dari Kecamatan Kanigaran, Mayangan, Wonoasih, hingga Kedopok. Selain genangan, satu pohon tumbang dilaporkan terjadi di Jl KH Genggong, dan plengsengan sungai sepanjang 10 meter ambrol di Jl Kiai Fadol.
Kasi Logistik dan Kedaruratan BPBD Kota Probolinggo Yudha Arisandy menyebutkan, puluhan rumah terdampak genangan. "Lokasi terparah berada di Jalan KH Genggong Gang Sukun dengan 25 rumah terdampak, dan wilayah Jalan Mangga Kelurahan Sumberwetan dengan 14 rumah," katanya melalui pesan singkat, Senin (19/1/2026).
.png)
Menurut Yudha, BPBD masih terus melakukan pemantauan dan upaya penyedotan air di beberapa titik yang belum surut, seperti di Jalan Bogowonto.
Banjir genangan ini mendapat sorotan dari Waka II DPRD Kota Probolinggo Santi Wilujeng. Sejak Minggu (18/1/2026) ia turun ke masyarakat terdampak banjir.
Menurutnya, dari tinjauan lapangan di wilayah Kelurahan Kareng Lor, penyebab utama banjir adalah jebolnya plengsengan karena volume air tidak tertampung. Kondisi ini diperparah dengan tumpukan sampah dan pendangkalan sungai.

"Saya melihat sendiri di Kareng Lor, plengsengannya jebol karena tidak kuat menampung debit air yang tinggi. Ditambah lagi kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah sembarangan yang menghalangi arus air," ujar Santi saat ditemui Senin (19/1/2026) pagi.
Santi juga menyoroti kondisi di wilayah lain. Ada pengaduan warga terkait pembangunan drainase yang menuju sungai besar (Gladak Serang). Warga menilai proyek tersebut kurang efektif karena saat debit air penuh, air justru berbalik ke pemukiman.
"Warga bahkan sempat menyebut itu proyek gagal, karena air malah masuk ke rumah. Saya sudah survei bersama Dinas PU untuk mencari solusi agar banjir ini bisa diminimalisir," tambahnya.
Di Kareng Lor, Santi menyebut air bahkan tidak surut selama dua hari. Ia meminta adanya tindakan dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk melakukan pengerukan atau normalisasi sungai.
"Sudah 7 tahun wilayah ini tidak banjir setelah dulu pernah dilakukan pengerukan. Sekarang banjir lagi, artinya harus ada pengerukan ulang dan mungkin jembatan di bawah aspal itu perlu ditinggikan agar aliran air lancar," jelas politisi PDI tersebut.
Santi juga menyinggung pentingnya manajemen sampah. Ia mengusulkan penambahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau titik penampungan sampah sementara karena banyak warga mengeluh lokasi pembuangan yang terlalu jauh.
"Warga mengeluh pembuangan ke DLH (TPA Bestari, red) terlalu jauh. Saya rasa program tossa (kendaraan pengangkut sampah) harus dimaksimalkan agar warga tidak lagi membuang sampah ke sungai," tuturnya. (alv/why)


Share to
 (lp).jpg)



