Sidak Oplah Bangsalsari, DPRD Temukan Catatan Soal Tandon Air

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Wednesday, 04 Feb 2026 13:23 WIB

Sidak Oplah Bangsalsari, DPRD Temukan Catatan Soal Tandon Air

SIDAK: Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto saat sidak pelaksanaan program Optimasi Lahan (Oplah) di Kecamatan Bangsalsari bersama petani setempat.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Pelaksanaan program Optimasi Lahan (Oplah) di Kecamatan Bangsalsari mulai menuai sorotan. Komisi B DPRD Jember menemukan sejumlah catatan usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di tiga lokasi pembangunan sarana pendukung irigasi, Selasa (3/2/2026).

Sidak dilakukan di bangunan penampungan air yang tersebar di Desa Banjarsari, Tisnogambar, dan Tugusari. Langkah ini merupakan tindak lanjut atas keluhan petani yang sebelumnya disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada 26 Januari 2026.

Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto mengatakan, temuan di lapangan akan menjadi bahan evaluasi bersama lintas pihak. Komisi B berencana memanggil Dinas Pertanian, kelompok tani, dan perwakilan petani untuk membahas efektivitas program tersebut. “Temuan ini akan kami dalami. Selanjutnya akan kami bahas dalam rapat komisi dengan mengundang dinas terkait, kelompok tani, dan petani,” ujar Candra saat ditemui Rabu (4/2/2026) pagi.

Berdasarkan data di lapangan, pembangunan sumur pertanian di Desa Tugusari menelan anggaran Rp 115.966.000 dengan target pengairan lahan seluas 25,21 hektare. Sedangkan di Desa Tisnogambar, anggaran mencapai Rp 159.420.000 untuk mendukung pengairan lahan sekitar 34,66 hektare. Namun di sisi lain, sejumlah petani menilai pelaksanaan program belum sepenuhnya menjawab kebutuhan riil di lapangan.

Hariyanto, petani asal Desa Banjarsari, menilai pembangunan tandon air perlu dievaluasi karena dinilai kurang sesuai dengan kondisi sumber air setempat.

Ia mencontohkan, nilai sarana prasarana yang diterima kelompok tani dinilai tidak sebanding dengan total anggaran program. “Di desa kami, sarana prasarana yang dirasakan petani nilainya sekitar Rp 10 jutaan, sementara total anggaran program mencapai Rp 91 juta,” ujarnya.

Ia juga mengkhawatirkan fungsi tandon air saat musim kemarau, mengingat sebagian besar lahan pertanian di wilayah tersebut masih bergantung pada air hujan. “Lahan kami tadah hujan. Kalau kemarau panjang dan tidak ada sumber air, kami khawatir tandon itu tidak bisa dimanfaatkan,” katanya.

Petani berharap evaluasi menyeluruh dapat segera dilakukan agar program Oplah benar-benar berdampak pada peningkatan produktivitas pertanian, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air. (dsm/why)


Share to